oleh

Ciputat Darurat Sampah: Volume Sampah Tinggi, Penanganan Terbatas

banner 468x60

Jurnalis TV, Tangerang Selatan – Tingginya volume sampah harian di wilayah Ciputat, Tangerang Selatan dalam beberapa waktu terakhir kembali memicu penumpukan di sejumlah titik strategis, mulai dari flayover hingga bahu jalan. Kondisi ini terjadi akibat ketidakseimbangan antara produksi sampah masyarakat dengan kapasitas sistem pengelolaan yang masih terbatas, sehingga meskipun pengangkutan terus dilakukan, tumpukan sampah tetap ditemukan dan mengganggu kenyamanan serta estetika lingkungan di wilayah tersebut.

Penumpukan sampah ini terjadi dikarenakan tutupnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang untuk sementara waktu, akibat curah hujan tinggi yang memicu terjadinya longsor di lokasi tersebut. Akibatnya, alur pembuangan sampah dari wilayah Ciputat terhambat dan memicu penumpukan yang tak terhindarkan. Pantauan di lapangan menunjukkan material sampah masih berserakan di sejumlah lokasi strategis, mulai dari kolong flyover Ciputat hingga meluber ke bahu jalan utama. Tumpukan sampah yang terbuka tanpa penutup ini berada tepat di ruang publik, sehingga aroma tidak sedap dan pemandangan kumuh langsung dirasakan warga serta pengguna jalan yang melintas setiap harinya.

banner 336x280

Situasi di lapangan turut menjadi perhatian bagi masyarakat maupun pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut. Rian, salah seorang warga Ciputat, menyampaikan pandangannya mengenai dampak visual dan aroma yang muncul akibat penumpukan tersebut.

“Pastinya terganggu, bukan dari warga sekitar saja. Jadi dari pengguna jalan sini pasti terganggu, dari aroma juga, dari pandangan jalanan juga terganggu” ujar Rian. 

Menanggapi situasi di kawasan tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Selatan telah menyiapkan petugas untuk mengoptimalkan penanganan sampah di lapangan. Syaiful Hadi, perwakilan dari DLH Tangsel, menjelaskan bahwa pengawasan intensif kini menjadi fokus utama melalui pembentukan pos-pos pantau di titik-titik rawan.

Baca Juga: Hari Peduli Sampah Nasional: Sampah Kita, Tanggung Jawab Kita

“Penanganannya ya contohnya kayak sekarang ini ada beberapa pos pantau agar supaya masyarakat yang biasa membuang sampah sembarangan jadi dibantu agar tidak buang sampah sembarangan di beberapa titik lokasi pasar Ciputat ini,” ujar Syaiful. (Minggu, 18/1/2026)

Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah daerah mencoba mengalihkan pengangkutan sampah ke wilayah lain. Namun, langkah ini tidak berjalan mulus. Upaya kerja sama lintas daerah, seperti rencana pembuangan ke Cileungsi, Bogor, masih terkendala perizinan yang rumit karena belum adanya kesepakatan resmi dengan pihak ketiga.

Harapan satu-satunya saat ini tertuju pada TPA Cilowong sebagai lokasi alternatif. Sayangnya, pengiriman ke sana pun dibatasi. TPA Cilowong hanya mampu menampung sekitar 10 armada truk per hari. Angka ini dinilai masih sangat kecil dibandingkan dengan produksi sampah harian wilayah Ciputat yang terus meroket, sehingga penumpukan di jalanan seolah menjadi bom waktu yang sulit dihindari.

Keadaan lingkungan yang memprihatinkan ini membawa ancaman kesehatan yang nyata bagi warga. Sampah yang dibiarkan berserakan tanpa pelindung sangat rawan menjadi tempat berkembang biaknya berbagai kuman penyakit, sekaligus merusak kemurnian alam di lingkungan tersebut.

Pada akhirnya, darurat sampah di Ciputat bukan hanya persoalan teknis di lapangan, melainkan tantangan besar yang menuntut perbaikan sistem secara menyeluruh dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Namun, upaya pemerintah tentu tidak akan maksimal tanpa adanya dukungan nyata dari masyarakat dalam mengelola sampah dari rumah tangga. Tanpa sinergi yang kuat di antara keduanya, pemandangan tumpukan sampah di sudut-sudut kota dikhawatirkan akan terus berulang, menjadi bom waktu bagi kenyamanan dan kesehatan warga di masa depan.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *