Jurnalis TV, Jakarta – Bulan suci Ramadhan merupakan bulan kesembilan dalam kalender Hijriah yang dimaknai umat Islam sebagai periode penuh keberkahan, pengampunan, dan peningkatan kualitas ibadah. Selama satu bulan, umat Muslim menjalankan puasa sekaligus memperbanyak amalan seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah, serta memperbaiki hubungan dengan sesama. Lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga, Ramadhan kerap dijadikan titik awal untuk melakukan refleksi diri dan menyusun kembali target kehidupan baik secara spiritual maupun sosial.
Momentum Ramadhan inilah yang mendorong banyak orang menetapkan harapan serta komitmen pribadi agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Di tengah semangat tersebut, setiap individu memiliki cara dan target yang berbeda dalam memaknai Ramadhan. Bagi sebagian orang yang tetap menjalani rutinitas kerja, konsistensi ibadah menjadi tantangan tersendiri.
Salman Faris, seorang pegawai kantoran, menyampaikan bahwa target utamanya adalah menjalankan puasa penuh selama 30 hari tanpa hambatan. “Saya cuma pengen 30 hari ini selama bulan Ramadhan puasanya full, tidak ada hambatan apapun, tidak ada sakit atau apa yang bisa bikin puasa saya bolong,” ungkapnya. Selain itu, ia berkomitmen merutinkan sedekah pagi setelah salat Subuh. “Saya ingin bersedekah pagi setiap selesai Subuh dan ingin merutinkannya sampai Ramadhan berakhir,” tambahnya.
Baca Juga: Sabar Dan Syukur: Dua Kunci Hidup Bahagia Menurut Islam
Meski demikian, menjaga konsistensi bukan perkara mudah. Ia mengakui bahwa rasa lelah sepulang kerja kerap memunculkan godaan untuk bermalas-malasan. “Tantangannya itu menghilangkan rasa males. Kadang habis pulang kantor capek, rasanya males banget buat ke masjid,” ujarnya. Namun, ia berharap kebiasaan ibadah yang dibangun selama Ramadhan, seperti sedekah pagi dan puasa sunnah, dapat terus diterapkan setelah bulan suci usai.
Semangat serupa juga disampaikan Nulido Firgiyanto, pegawai swasta, yang menargetkan dapat mengkhatamkan Al-Qur’an minimal satu kali. “Goals untuk Ramadhan tahun ini semoga bisa khatam lagi, minimal satu kali, dan konsisten baca Al-Qur’an setelah salat wajib,” tuturnya. Ia juga ingin memperbanyak berbagi kepada sesama. “Mudah-mudahan bisa terus berbagi, bukan hanya soal nominal, tapi juga berbagi dalam hal kebaikan,” jelasnya.
Di sisi lain, aktivitas pekerjaan yang tetap berjalan menjadi tantangan tersendiri. “Karena aktivitas sehari-hari juga masih terus jalan, jadi tantangan konsistensinya lebih ke lawan rasa capek dan jaga kondisi fisik serta hati supaya tetap konsisten,” ujarnya. Harapannya, kebiasaan baik selama Ramadhan dapat terus dijaga di bulan-bulan berikutnya.
Dari kalangan mahasiswa, Ayu Min Amrina Rosyada memaknai Ramadhan sebagai kesempatan memperkuat kebersamaan dalam ibadah. Ia mengikuti program “One Day One Juz” bersama teman-temannya. “Selama bulan Ramadhan ini lagi bikin program One Day One Juz, pengennya bisa konsisten,” ucapnya. Selain itu, ia berharap dapat menjalankan tarawih secara penuh selama satu bulan. “Pengennya tarawihnya full, satu bulan nggak ada halangan,” tambahnya.
Sebagai pekerja freelance yang mobilitasnya tinggi, Ayu juga memanfaatkan Ramadhan untuk mengunjungi berbagai masjid. Tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi dalam tadarus dan ibadah sunnah. “Kayaknya yang perlu lebih konsisten lagi itu One Day One Juz dan ibadah sunnah lainnya,” ujarnya. Ia berharap setelah Ramadhan berakhir, kebiasaan puasa sunnah dan tadarus tetap bisa dilanjutkan.
Sementara itu, Anggalika Mutiara Sari juga menargetkan dapat mengkhatamkan Al-Qur’an selama Ramadhan. “Aku pengen banget hataman di bulan Ramadhan,” ungkapnya. Untuk menjaga semangat, ia bersama teman-temannya membentuk grup tadarus. “Supaya bisa konsisten, akhirnya kita ngajak teman-teman. Jadi mau nggak mau harus jalan,” tuturnya. Ia menyadari bahwa tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi karena “semangat Ramadhan itu biasanya adanya di awal,” tambahnya.
Anggalika berharap kebiasaan baik tersebut tidak berhenti setelah Ramadhan. “Pengennya hal-hal yang udah dijalanin sekarang ini nggak cuma selesai di bulan Ramadhan aja, tapi tetap kita jalanin di hari-hari biasa supaya bisa bikin hari kita lebih ter-upgrade,” ujarnya.
Dari berbagai pandangan tersebut, terlihat bahwa Ramadhan dimaknai sebagai ruang untuk menata ulang prioritas dan memperkuat komitmen ibadah. Meski dihadapkan pada rasa lelah, kesibukan pekerjaan, hingga fluktuasi semangat, para narasumber sepakat bahwa kunci utama terletak pada konsistensi dan dukungan lingkungan. Ramadhan bukan hanya tentang target satu bulan, melainkan tentang bagaimana kebiasaan baik yang dibangun mampu menjadi fondasi perubahan diri yang berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.













Komentar