Jurnalis TV, Jakarta – Ikan sapu-sapu selama ini dikenal sebagai “pahlawan” pembersih akuarium. Kemampuannya memakan lumut dan sisa kotoran membuat ikan ini banyak dipelihara untuk menjaga kebersihan air. Penyebaran yang semakin meluas di sungai dan danau Indonesia menunjukkan bahwa ikan ini telah bertransformasi menjadi spesies invasif yang berpotensi merusak keseimbangan ekosistem. (CNN Indonesia)
Baca Juga: Bukan Sinkhole : Mengungkap Piping Erosion di Balik Lubang di Aceh
Secara biologis, ikan sapu-sapu memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi. Ia dapat bertahan hidup di air dengan kadar oksigen rendah, serta mampu hidup di lingkungan yang tercemar dan bermuatan organik tinggi, kondisi yang sering ditemui di perairan urban. Beberapa peneliti menyebut bahwa daya tahan ini membuat sapu-sapu unggul dibanding banyak spesies lokal yang lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan. (Kompas.com)
Tak hanya bertahan hidup, ikan sapu-sapu juga memiliki usia panjang dan kemampuan berkembang biak yang cepat. Populasinya dapat meningkat secara eksponensial ketika tidak ada predator yang efektif. Hal ini telah terlihat di beberapa sungai utama, dimana sapu-sapu mendominasi kepadatan ikan dalam area tertentu, menekan ruang hidup dan sumber makanan ikan-ikan lokal. (Tempo.com)
Dampaknya tidak hanya pada persaingan antar spesies, tetapi juga pada kondisi fisik sungai. Kebiasaan ikan ini menggali lubang di dasar dan bantaran sungai dapat mempercepat erosi serta meningkatkan risiko longsor. Penyebaran ikan ini juga kerap dipicu oleh pelepasan ikan peliharaan ke perairan umum tanpa pengawasan, sehingga diperlukan edukasi dan pengendalian populasi untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, untuk meminimalkan dampak jangka panjang dari penyebaran ikan sapu-sapu. (Detik.com)













Komentar