Jurnalis TV, Tangerang Selatan – Harga plastik di sejumlah pasar melonjak hingga 70 persen pada awal April 2026. Kenaikan ini dipicu gangguan pasokan bahan baku akibat konflik global yang memengaruhi distribusi minyak dan produk turunan petrokimia, serta mulai menekan pelaku UMKM hingga masyarakat.
Kenaikan ini langsung dirasakan pelaku usaha kecil yang bergantung pada plastik sebagai kemasan produk. Harga bahan baku seperti bijih plastik ikut melonjak akibat terganggunya pasokan impor. Bahkan, beberapa jenis plastik dilaporkan mengalami kenaikan hingga dua kali lipat di tingkat pasar.
Baca Juga: Fakta-Fakta Penting Sampah Plastik
Kondisi ini memaksa pelaku usaha menyesuaikan strategi, baik dengan menaikkan harga jual maupun mengurangi penggunaan kemasan. Sejumlah pelaku usaha juga mulai mencari alternatif bahan kemasan yang lebih terjangkau, meski ketersediaannya masih terbatas.
Salah satu pedagang plastik eceran, Williaman, mengatakan kenaikan harga terjadi bervariasi tergantung jenis dan merek produk.
“Kenaikannya sekitaran 10% dari harga normal. Dari harga Rp9.000 menjadi Rp15.000, Rp12.000, ada beberapa tergantung merek,” katanya.
Ia menyebut kondisi tersebut berdampak besar terhadap usahanya karena mayoritas pelanggannya merupakan pelaku usaha kecil.
“Dampaknya sangat negatif karena pelanggan saya, seperti pedagang chicken, martabak, dan es buah, keberatan dengan kenaikan harga plastik,” ujarnya.
Tidak hanya pelaku usaha, masyarakat juga turut merasakan dampaknya. Harga makanan dan minuman kemasan ikut mengalami kenaikan sehingga daya beli masyarakat mulai tertekan. Di sisi lain, permintaan terhadap plastik masih relatif stabil karena fungsinya yang belum sepenuhnya tergantikan dalam kebutuhan sehari-hari.
Seorang pelaku usaha minuman yang juga menjadi konsumen plastik, Fathurrahman, mengaku lonjakan harga plastik terasa sangat signifikan.
“Ya ngaruh banget lah. Ini namanya bukan naik harga, ganti harga. Malah nyampe dua kali lipat, dua kali terus masih dibilangin ntar kapan-kapan bisa naik lagi. Naiknya banyak banget drastis. Rp7.000 itu aja per piece-nya, belum per kilo tuh,” ujarnya.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, ia terpaksa melakukan penyesuaian dalam usahanya agar harga jual tetap terjangkau.
“Ya paling inisiatif ya porsiannya kita aja, porsiannya kita kurangin kalau harga masih kita jaga. Kita nyari plastik yang agak murahan, walaupun nggak bermerek tapi asal nggak bocor kita pakai. Walaupun tipis tapi masih kuat, jadi harga masih bisa ngikutin,” jelasnya.
Sejumlah pelaku usaha menilai kenaikan harga ini tidak hanya berdampak pada biaya produksi, tetapi juga berpotensi menekan margin keuntungan secara signifikan jika berlangsung dalam jangka panjang. Kenaikan harga ini menunjukkan dampak konflik global yang mulai dirasakan hingga sektor ekonomi kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Pemerintah disebut mulai melakukan upaya stabilisasi, seperti mencari alternatif sumber bahan baku dan mendorong penggunaan plastik daur ulang. Upaya ini dinilai penting untuk menjaga ketersediaan pasokan sekaligus menekan laju kenaikan harga di tingkat pasar.













Komentar