Jurnalis TV, Jakarta – Di tengah naiknya biaya hidup dan semakin kuatnya kepedulian terhadap lingkungan, sebuah fenomena menarik muncul di dunia fashion, thrifting semakin diminati, terutama oleh generasi muda. Tidak lagi dipandang sebagai pilihan terakhir, kini pakaian preloved menjadi simbol gaya hidup estetis, hemat, sekaligus bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.
Salah satu alasan utama tren ini terus meningkat adalah faktor ekonomi. Banyak orang memilih pakaian preloved karena harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan membeli pakaian baru dari fast fashion. Harga yang murah ini memungkinkan pembeli mendapatkan barang berkualitas tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam, terutama di masa biaya hidup meningkat seperti sekarang.
Baca Juga: Italian Charm Bracelet: Aksesori Modular yang Menghiasi Pergelangan Dunia
Selain itu, pencarian terhadap barang unik, seperti jaket vintage, celana denim klasik, atau kemeja retro yang jarang ditemukan di toko biasa, juga membuat thrifting menjadi pengalaman “berburu harta” yang menyenangkan. Hal ini mendorong individu untuk mengembangkan gaya personal yang berbeda dari tren massal.
Data tren pencarian dan penggunaan media sosial juga menunjukkan bahwa generasi muda menggunakan platform seperti Instagram, TikTok, dan Pinterest untuk berbagi thrift haul, inspirasi outfit, serta hashtag terkait gaya hidup berkelanjutan, yang semakin menguatkan nilai estetika dan sosial dari thrifting.
Thrifting kini bukan hanya soal menghemat uang, ini menjadi pilihan gaya hidup yang mencerminkan nilai pribadi: kreativitas, keberlanjutan, dan kesadaran sosial. Melalui pakaian preloved, seseorang bisa menciptakan gaya unik yang mempunyai cerita tersendiri, sesuatu yang sulit dicapai oleh pakaian pabrik massal.
Di saat yang sama, tren ini juga menginspirasi lahirnya komunitas dan ekonomi baru. Banyak pelaku UMKM yang sekarang menjual pakaian vintage atau thrift secara online dan offline, membantu memperluas peluang usaha lokal.



















Komentar