Jurnalis TV, Jakarta – Di tengah meningkatnya biaya hidup dan tuntutan kemandirian, semakin banyak mahasiswa yang memilih menjalani kuliah sambil bekerja. Bagi sebagian anak muda, ruang kelas tak lagi menjadi satu-satunya pusat kehidupan mahasiswa. Pekerjaan hadir sebagai jalan untuk bertahan, belajar mandiri, sekaligus menyiapkan masa depan. Namun, di balik pilihan tersebut, muncul pertanyaan tentang batas antara kebutuhan dan ambisi materi.
Kuliah sambil kerja bukan fenomena baru, tetapi realitasnya kini semakin terasa. Latar belakang ekonomi yang beragam membuat tidak semua mahasiswa bisa sepenuhnya bergantung pada orang tua.
Hasna, mahasiswa Manajemen Pendidikan, menilai faktor ekonomi masih menjadi alasan paling umum. Menurutnya, ada mahasiswa yang harus membiayai kuliahnya sendiri, sementara yang lain memilih bekerja untuk menambah pengalaman sebelum lulus.
Meski begitu, pilihan ini tidak selalu berjalan mulus. Hasna melihat bahwa kesiapan setiap mahasiswa berbeda-beda. Ia mengamati beberapa temannya mulai kewalahan karena kesulitan mengatur waktu. “Balik lagi ke diri masing-masing. Ada yang bisa, ada juga yang akhirnya keteteran,” ujarnya. Menurutnya, tantangan terbesar kuliah sambil kerja terletak pada kemampuan memahami prioritas antara tugas akademik dan tuntutan pekerjaan.
Baca Juga: Nikah 19 Tahun: Sudah Matang atau Terlalu Dini?
Pandangan serupa disampaikan Najwa Maimunah, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris. Ia menilai keputusan kuliah sambil bekerja sering diambil agar mahasiswa bisa tetap melanjutkan pendidikan tanpa dibayangi tekanan ekonomi. Namun, Najwa menegaskan bahwa fokus antara kuliah dan kerja sangat bergantung pada tujuan personal masing-masing. “Kalau tujuannya kuliah, ya akademik yang harus diutamakan. Manajemen waktunya harus lebih dimainkan,” katanya.
Najwa mengakui bahwa keseimbangan tersebut tidak selalu mudah dicapai. Pada masa-masa tertentu, seperti menjelang Ujian Akhir Semester, jadwal kuliah dan pekerjaan kerap saling berbenturan. Dari pengalamannya, ia berusaha menyiasati kondisi tersebut dengan belajar bersama teman dan mempersiapkan diri lebih awal agar tidak tertinggal materi.
Sementara itu, Farid Azhar melihat kuliah sambil kerja sebagai dua sisi mata uang. Di satu sisi, bekerja dapat melatih kemandirian, tanggung jawab, serta manajemen waktu. Di sisi lain, jika beban kerja terlalu padat, fokus akademik justru menjadi korban. “Tujuan kita sebagai mahasiswa kan belajar. Kalau kerja bikin kita lalai sampai nilai turun, itu jadi masalah,” ujarnya.
Menurut Farid, tantangan terbesar tidak hanya soal membagi waktu, tetapi juga energi dan kesiapan mental. Tekanan di dunia kerja, jadwal yang bentrok dengan perkuliahan, hingga kurangnya waktu istirahat menjadi realitas yang harus dihadapi mahasiswa pekerja. Karena itu, ia menekankan pentingnya bersikap realistis dan berani mengambil keputusan jika pekerjaan mulai mengganggu tujuan pendidikan jangka panjang.
Hal senada disampaikan oleh Ayu Novitasari. Ia memilih bekerja untuk mempersiapkan diri sebelum terjun penuh ke dunia kerja. Meski mengakui bahwa fokus akademik terkadang terdistraksi, Ayu menilai kemandirian yang didapat juga menjadi nilai tambah. Namun, ia mengingatkan agar materi tidak dijadikan tujuan utama selama masa kuliah. “Jangan sampai kerja buat cari duit malah bikin tujuan akademik terabaikan,” katanya.
Beragam pandangan mahasiswa ini menunjukkan bahwa kuliah sambil kerja tidak bisa dinilai secara sederhana sebagai bentuk kemandirian atau justru candu materi. Pilihan tersebut menuntut kesadaran, manajemen waktu yang matang, serta keberanian menetapkan prioritas. Di tengah tuntutan zaman yang semakin kompleks, kuliah sambil kerja menjadi cerminan bagaimana mahasiswa bernegosiasi dengan realitas hidup, tanpa kehilangan arah tujuan pendidikan yang ingin dicapai.













Komentar