Jurnalis TV, Jakarta – Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) semakin akrab di kalangan anak muda, terutama di era media sosial yang serba cepat. Setiap hari, linimasa dipenuhi unggahan tentang nongkrong di tempat hits, konser musisi favorit, hingga tren fashion terbaru. Tanpa disadari, arus informasi tersebut memunculkan dorongan untuk selalu ikut serta, bukan semata karena ingin, melainkan karena takut tertinggal.
Istilah FOMO pertama kali dipopulerkan oleh Patrick J. McGinnis sejak tahun 2004. Ia menggambarkan kecemasan sosial yang muncul ketika seseorang merasa melewatkan peluang atau pengalaman yang dinikmati orang lain. Dalam konteks psikologi, FOMO berkaitan erat dengan kebutuhan dasar manusia untuk merasa diterima dan menjadi bagian dari kelompok sosial.
Baca Juga: Seni Menghilang Sejenak: Saat ‘Slow Living’ Menjadi Jawaban Atas Lelahnya Mengejar Viral
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) semakin terasa di kalangan generasi muda seiring masifnya penggunaan media sosial. Sebagai contoh, banyak anak muda yang rela membeli barang yang sedang viral di media sosial meski tidak benar-benar membutuhkannya, hanya karena takut dianggap ketinggalan tren. Ada pula yang memaksakan diri datang ke acara atau tempat populer demi bisa mengunggahnya ke Instagram, agar tetap terlihat update di lingkaran pertemanan.
Pada akhirnya, FOMO bukan sekadar persoalan gengsi atau pencitraan di media sosial. Tekanan sosial digital semacam ini, bisa berdampak terhadap meningkatnya stres dan kecemasan pada remaja. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental dan membentuk pola pikir yang selalu merasa tertinggal. Tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua undangan harus dipenuhi. Sebab, yang perlu dijaga bukan sekadar eksistensi di dunia maya, melainkan keseimbangan dan kesehatan mental di dunia nyata.



















Komentar