Jurnalis TV, Tangerang – Keikutsertaan Indonesia dalam forum internasional Board of Peace (BoP) menuai beragam tanggapan dari masyarakat. BOP (Board of Peace) adalah lembaga internasional yang dibentuk untuk mengawasi dan mendorong proses perdamaian serta stabilisasi pasca konflik. BOP didirikan oleh Donald J. Trump dengan tujuan mengkoordinasikan upaya perdamaian, gencatan senjata, dan rekonstruksi di wilayah konflik seperti Gaza.
Forum yang bertujuan mendorong perdamaian dunia ini dinilai menjadi bagian dari langkah diplomasi Indonesia di tengah dinamika global. Namun, apa sebenarnya yang melatarbelakangi keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace? apakah murni sebagai upaya menjaga perdamaian dunia, atau bagian dari strategi diplomasi internasional?
Baca Juga: Trump dan Epstein : Tuduhan di Tengah Impunity Elite
Beragam pandangan muncul dari berbagai kalangan, baik mahasiswa maupun masyarakat umum. Perbedaan pendapat ini mencerminkan dinamika sikap publik terhadap peran Indonesia dalam forum perdamaian internasional.l
Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump dan Presiden Prabowo Subianto dalam acara peluncuran Dewan Perdamaian (Board of Peace) Gaza di Congress Hall WEF 2026, Kota Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026). (Foto: Jakarta Post.
Dari kalangan mahasiswa, Muhammad Saiful Haris, mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta, menyampaikan sikap kritis terhadap keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace.
“Saya menilai Indonesia seharusnya berhati-hati bergabung dalam Board of Peace, karena forum ini digagas oleh Amerika Serikat yang memiliki kepentingan tertentu, sehingga berpotensi tidak netral dalam upaya perdamaian,” ujarnya.
Pandangan berbeda disampaikan Lintar Tri Rifnu Ananda, mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta. Menurutnya, langkah Indonesia masih dapat dipahami dalam konteks diplomasi internasional.
“kegabungannya ya menurut saya sih oke-oke aja ya karena kenapa jika memang sekiranya Indonesia nggak masuk juga, jadi teman-teman kita tuh punya dua hal yang sekiranya tuh jadi problem gitu kalau kita nggak masuk kita bakal diserang oleh negara adidaya kalau kita masuk kita bakal diserang oleh negara sekutu kita gitu jadi dan juga kenapa saya yakin ya kenapa Prabowo masuk itu,” katanya.
Sementara itu, dari kalangan masyarakat, dukungan disampaikan oleh Dendi Hariyanto. Ia menilai keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace merupakan langkah yang positif.
“Menurut saya bagus ya, karena kita sangat mendukung untuk perdamaian dunia ya. Dari Bapak Presiden kita sendiri untuk menginisiasi untuk perdamaian dunia” ujarnya.
Hal senada disampaikan warga lainnya, Heru Komaru Jaman. Ia mengajak publik melihat keikutsertaan Indonesia dari sisi kemanusiaan.
“Setuju, ini bagian dari upaya perdamaian yang dilakukan pemerintah, yang dilakukan oleh Ormas, yang dilakukan oleh siapapun yang ada di Indonesia. Tujuannya satu, bagaimana Palestina damai, bagaimana Palestina merdeka, bagaimana antara Palestina dengan Israel sebetulnya menjadi satu kesatuan. Semuanya manusia. Kalau orang melihat agama, kalau orang melihatnya jangan melihat agamanya, tapi dari sisi kemanusiaannya,” ujarnya.
Beragam pandangan tersebut menunjukkan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace masih menjadi perhatian publik. Di tengah pro dan kontra yang ada, masyarakat berharap Indonesia tetap konsisten menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif, serta berkontribusi nyata dalam upaya menjaga perdamaian dunia.













Komentar