Jurnalis TV, Jakarta – Hari badak sedunia yang diperingati setiap tanggal 22 September 2025, bukan sekadar peringatan simbolik. Bagi Indonesia, tanggal ini mengingatkan bahwa badak jawa kini hanya tersisa sekitar 50 ekor, seluruhnya terkurung di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten.
Jumlah ini menurun dibandingkan beberapa tahun lalu yang sempat mencapai 70-an individu. Seluruh populasi saat ini hanya bertahan di Ujung Kulon, membuat mereka sangat rentan terhadap ancaman tunggal seperti bencana alam, penyakit, hingga hingga keterbatasan ruang jelajah.
Balai Taman Nasional Ujung Kulon melaporkan, meski kamera jebak masih merekam kelahiran anak badak setiap tahun, sejumlah individu dewasa tidak lagi terdeteksi. Kondisi ini menunjukkan tekanan serius terhadap kelangsungan populasi badak jawa.
Baca Juga: Dire Wolf Bangkit Kembali, Ada Campur Tangan Ilmuwan
Untuk mengurangi risiko kepunahan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meluncurkan program translokasi badak jawa ke kawasan konservasi baru. Dalam siaran pers Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 26 Agustus 2025, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa pemindahan badak jawa penting untuk memperluas habitat, menekankan kepunahan akibat risiko bencana, serta memperkuat keragaman genetik populasi.
Dari kalangan akademisi, pakar konservasi menilai translokasi merupakan langkah mendesak. Mereka menekankan bahwa badak jawa adalah kekayaan hayati yang hanya dimiliki Indonesia, dan jika punah, dunia tidak lagi memiliki spesies tersebut.
Peringatan Hari Badak Sedunia diharapkan tidak berhenti pada seremoni. Publik diingatkan untuk ikut peduli mulai dari tidak terlibat dalam perdagangan satwa liar hingga mendukung upaya konservasi. Badak jawa adalah warisan dunia yang kini hanya ada di Indonesia, menyelamatkannya berarti menjaga ekosistem dan masa depan generasi mendatang.



















Komentar