Jurnalis TV, Jakarta – Komunitas seni pelajar Teater Mantu, kembali hadir dengan karya terbarunya melalui penggambaran realitas sosial dengan pendekatan yang artistik. Acara ini berlangsung pada Minggu, 16 November 2025, di Gedung Graha Pemuda, Kecamatan tigaraksa, Kabupaten tangerang. Teater Mantu ke-6 ini mengusung tema “Arus bawah”, sebuah karya yang mengangkat isu mendalam tentang realitas kaum terpinggirkan di tengah hiruk pikuk kota.
Acara pementasan “Arus Bawah” oleh Teater Mantu berlangsung pada pukul 13.00-15.30 WIB. Diawali dengan sambutan oleh Nur Iqbal Fauzi selaku sutradara Teater Mantu, kemudian dilanjutkan dengan penampilan pendukung yaitu Grup Vokal Mantu.
Iqbal Fauzi menjelaskan bahwa Teater Mantu dibentuk dengan tujuan untuk mengembangkan kreativitas anak-anak muda.Selain itu pemilihan tema “Arus Bawah” terinspirasi dari pergerakan ekonomi bawah yang tidak timbul ke permukaan. Ia berharap pertunjukan ini mampu membuat penonton lebih memahami perjuangan para pelaku ekonomi kecil yang kerap luput dari perhatian publik.
Baca Juga: Melalui “Kopral Woyzeck”, Teater Syahid Soroti Ketimpangan Sosial dan Perang Batin Manusia
“Arus bawah menyoroti bagaimana pergerakan perekonomian di bawah yang kadang juga tidak tersembul ke permukaan. Nah, dari cerita-cerita tersebut itulah yang saya inginkan bisa didengar atau bisa dipahami atau dimaknai oleh para penonton. Harapannya, tentunya saya ingin bahwa orang-orang atau setidaknya penonton yang hadir bisa menyoroti UKM atau ekonomi-ekonomi mikro atau kecil yang kadang sekarang sudah tidak tersorot dan bahkan mungkin sudah jarang orang-orang untuk berbelanja secara konvensional,” Ujarnya.
Puncak acara diwarnai dengan pementasan teater “Arus Bawah” yang menghadirkan konsep menari. Dalam kesempatan ini, Teater mantu mengambil konsep unik dengan mengubah arena pertunjukan menjadi pasar dan penonton sebagai orang yang duduk melihat pertunjukan di tengah-tengah pasar. Dengan sentuhan teknologi mapping, musik, dan tata cahaya yang bersatu-padu, Teater Mantu berhasil menciptakan pengalaman yang sulit dilupakan bagi para hadirin.
Alya selaku salah satu penonton, mengaku kagum sejak awal pertunjukan. Ia menilai teater ini mampu menyampaikan pesan moral tentang perjuangan masyarakat kecil yang tetap bertahan di tengah kesulitan.
“Kalau paling terkesan ya itu penampilan dari awal banget yang mereka nampilin ada perempuan-perempuan yang bertudung putih, itu menurutku sangat-sangat mengesankan buat aku,” Ujarnya.
Dengan Menggabungkan monolog, teater tubuh, serta visual. Pementasan ini berhasil membawa penonton seolah masuk kedalam gambaran kehidupan yang dipentaskan oleh Teater Mantu. Pertunjukan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa masih banyak realitas kota yang perlu disuarakan dan diperjuangkan.












Komentar