Jurnalis TV, Jakarta – Di tengah riuhnya notifikasi ponsel dan tuntutan algoritma yang memaksa kita untuk selalu “tampil”, sebuah gerakan sunyi mulai bersemi. Bukan tentang seberapa banyak likes yang didapat, melainkan tentang seberapa tenang napas yang dihirup. Fenomena ini dikenal sebagai Slow Living, sebuah seni untuk melambat di dunia yang bergerak terlalu cepat.
Bagi banyak orang, gaya hidup ini bukan sekadar tren estetika di Instagram, melainkan sebuah mekanisme pertahanan diri dari kelelahan mental akibat mengejar viralitas yang tak ada ujungnya.
Selama satu dekade terakhir, kita sering kali terjebak dalam budaya “selalu terhubung”. Keinginan untuk tidak ketinggalan tren (Fear of Missing Out atau FOMO) telah menciptakan tingkat stres baru. Namun, belakangan ini muncul arus balik yang signifikan: Joy of Missing Out (JOMO).
Banyak individu mulai meninggalkan doomscrolling kebiasaan menggeser layar tanpa henti dan beralih ke aktivitas yang menyentuh indra perasa secara fisik. Hobi-hobi “analog” yang dulu dianggap kuno, kini kembali naik daun.
Baca Juga: Dampak Media Sosial terhadap Generasi Z: Antara Koneksi dan Kesehatan Mental
Richard Louv, Dalam salah satu bukunya yang berjudul Last Child in the Woods (2005), ia mengingatkan bahwa di zaman yang serba digital ini, alam adalah kunci utama untuk menjaga keseimbangan hidup manusia. Louv menekankan bahwa semakin canggih teknologi yang kita gunakan, maka semakin besar pula kebutuhan kita untuk kembali ke alam sebagai penyeimbangnya.
Beberapa aktivitas yang kini menjadi “pelarian” favorit meliputi:
- Membaca Buku Fisik: Data penjualan buku fisik di beberapa negara menunjukkan stabilitas bahkan peningkatan, di mana pembaca mencari kedalaman fokus yang sering terganggu oleh iklan pop-up di e-book.
- Berkebun di Lahan Sempit: Tren urban farming bukan lagi soal ketahanan pangan semata, melainkan meditasi aktif. Melihat tanaman tumbuh pelan mengajarkan kesabaran yang berlawanan dengan kecepatan internet.
- Merajut dan Menyulam: Aktivitas repetitif ini terbukti secara psikologis mampu menurunkan level kortisol (hormon stres) dan memberikan rasa pencapaian yang nyata secara visual dan taktis.
Di berbagai platform media sosial sendiri, narasi mengenai Digital Detox mulai sering digaungkan. Salah satu konten kreator asal Amerika yang paling vokal mengenai hal ini adalah Emma Chamberlain. Pada Februari 2022, ia mengejutkan jutaan pengikutnya dengan memutuskan untuk menghapus aplikasi TikTok dari ponselnya karena merasa terjebak dalam arus informasi yang tak ada habisnya.
”TikTok benar-benar terasa seperti lubang hitam. Saya merasa aplikasi itu membuang-buang waktu saya dan membuat saya merasa tidak puas dengan hidup saya sendiri,” ungkapnya pada salah satu podcastnya di Spotify “Anything Goes with Emma Chamberlain” yang tayang 24 Februari 2022.
Bagi Emma, mengambil jarak dari dunia maya bukan berarti berhenti berkarya, melainkan upaya untuk mendapatkan kembali kendali atas kebahagiaannya.
Menerapkan slow living bukan berarti memusuhi teknologi sepenuhnya. Namun, ini adalah upaya sadar untuk mengambil kembali kendali atas waktu dan perhatian kita. Memilih untuk “menghilang sejenak” dari keriuhan digital adalah cara untuk memastikan bahwa kita masih memiliki kehidupan yang nyata di luar angka-angka statistik di layar.
Pada akhirnya, di dunia yang terus menuntut kita untuk menjadi “sesuatu”, menjadi “biasa saja” dan menikmati secangkir kopi sambil menatap senja tanpa perlu memotretnya adalah sebuah kemewahan baru.
Slow living adalah pengingat bahwa hidup tidak diukur dari berapa banyak konten yang kita konsumsi atau produksi, melainkan dari seberapa berkualitas momen yang kita jalani. Seni menghilang sejenak adalah cara kita menemukan kembali diri yang sempat hilang dalam algoritma.

















Komentar