Jurnalis TV, Jakarta – Ramadhan selalu punya caranya sendiri untuk menghadirkan kehangatan. Undangan buka bersama datang silih berganti, dari teman lama sampai relasi baru. Kalender yang biasanya kosong mendadak penuh. Rasanya seperti ada yang kurang kalau tidak ikut hadir dan duduk di satu meja yang sama. Momen ini memang menyenangkan, penuh cerita dan tawa yang jarang terjadi di luar bulan puasa.
Banyak orang rela menyesuaikan jadwal, menempuh perjalanan cukup jauh, bahkan menyisihkan uang demi bisa ikut berkumpul. Semua dipersiapkan dengan serius, mulai dari memilih tempat, menentukan menu, sampai memikirkan pakaian yang akan dikenakan. Semangatnya terasa sekali. Rasanya ingin semuanya berjalan sempurna.
Namun di sela-sela suasana itu, ada hal kecil yang kadang terlewat. Waktu berbuka yang seharusnya diawali doa dan segera dilanjutkan dengan sholat, kadang tertunda karena masih menikmati hidangan atau asyik mengobrol. Tarawih yang awalnya ingin dikerjakan berjamaah, berubah menjadi rencana yang tidak selalu terlaksana karena tubuh sudah lelah setelah pertemuan panjang. Tilawah yang diniatkan satu juz sehari, pelan-pelan berkurang karena waktu terasa habis untuk aktivitas sosial.
Baca Juga: Bulan Ramadhan Jadi Momentum Masyarakat Menetapkan Harapan dan Target
Padahal Ramadhan bukan sekadar tentang menahan lapar dan haus. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa bulan ini menjadi waktu turunnya petunjuk bagi manusia. Ada pesan besar tentang perbaikan diri dan peningkatan kualitas ibadah. Sayang sekali jika kesempatan yang datang setahun sekali ini justru berlalu tanpa makna yang dalam.
Kebersamaan tentu bukan hal yang salah. Silaturahmi tetap bernilai kebaikan. Hanya saja, ketika pertemuan lebih diprioritaskan daripada kewajiban, di situlah perlahan arah bisa bergeser. Antusiasme yang begitu besar untuk menghadiri undangan seharusnya juga hadir saat menunaikan perintah-Nya. Jika bisa tepat waktu datang ke lokasi acara, tentu bisa pula berusaha tepat waktu dalam sholat. Jika bisa bersemangat merancang konsep pertemuan, seharusnya tidak sulit menyusun target ibadah pribadi.
Ramadhan memiliki batas. Hari-harinya terus berkurang tanpa terasa. Setiap malam menyimpan kesempatan yang belum tentu terulang tahun depan. Karena itu, menjaga keseimbangan menjadi penting. Menghadiri buka bersama tetap bisa dilakukan, asalkan tidak mengorbankan kewajiban utama. Menikmati hidangan tetap boleh, asalkan hati tidak lalai dari tujuan.
Bukber boleh saja dibuat on point, terkonsep rapi dan penuh kesan. Akan lebih indah jika ibadah juga ditempatkan di titik terbaiknya. Sebab pada akhirnya, yang akan dibawa pulang dari bulan ini bukan foto kebersamaan atau daftar tempat yang sudah dikunjungi, melainkan seberapa dekat diri ini kepada Allah dan seberapa sungguh usaha yang sudah dilakukan.

















Komentar