Jurnalis TV, Jakarta – Setiap orang pasti pernah merasa insecure. Entah karena melihat pencapaian orang lain, atau karena merasa diri sendiri belum sampai di titik yang diinginkan. Perasaan ini sebenarnya wajar. Bahkan, banyak orang bilang bahwa insecure adalah bagian dari proses mengenal diri sendiri. Dari situ, seseorang bisa belajar melihat kekurangan dan mencoba memperbaikinya.
Awalnya, mendengarkan perasaan insecure terasa seperti hal yang benar untuk dilakukan. Seseorang memilih untuk jujur pada dirinya sendiri. Ia tidak menyangkal bahwa ada rasa takut, rasa kurang, atau rasa tertinggal. Ia mencoba menerima bahwa memang ada bagian dari dirinya yang belum sesuai harapan. Pada tahap ini, insecure masih terasa seperti sesuatu yang bisa dipahami.
Namun, tanpa disadari, perasaan ini bisa berubah. Insecure yang awalnya hanya datang sesekali, perlahan menjadi lebih sering muncul. Hal-hal kecil mulai terasa seperti bukti bahwa diri ini memang tidak cukup baik. Melihat keberhasilan orang lain bukan lagi menjadi motivasi, tetapi justru menjadi pengingat bahwa diri sendiri masih tertinggal. Dari situ, muncul pikiran-pikiran negatif yang terus berulang.
Baca Juga: Jangan Biarkan Rasa Insecure Menguasai Hidupmu! Ini Solusinya
Semakin lama, perasaan insecure ini tidak hanya menjadi sesuatu yang dirasakan, tetapi juga sesuatu yang memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Semangat yang dulu ada, perlahan mulai berkurang. Bukan karena tidak punya mimpi, tetapi karena sudah merasa tidak yakin dengan diri sendiri. Bahkan, terkadang muncul perasaan seperti tidak berguna, seolah apa pun yang dilakukan tidak akan membawa perubahan.
Yang lebih sulit adalah ketika seseorang sebenarnya sadar bahwa perasaan ini tidak baik, tetapi tetap tidak mudah untuk menghentikannya. Ia sudah mencoba untuk melawan, mencoba untuk berpikir positif, tetapi perasaan itu tetap ada. Seolah-olah, semakin dilawan, semakin kuat juga ia bertahan. Pada titik ini, insecure bukan lagi sekadar perasaan, tetapi sudah seperti mengambil kendali.
Awalnya, perasaan ini hanya ingin didengarkan. Tidak pernah dimaksudkan untuk menguasai. Namun, ketika dibiarkan terlalu lama, ia bisa membuat seseorang kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri. Ia mulai meragukan kemampuannya, bahkan sebelum benar-benar mencoba.
Mungkin, dari sini bisa dipahami bahwa mendengarkan perasaan memang penting, tetapi juga perlu ada batas. Tidak semua yang dirasakan harus dipercaya sepenuhnya. Terkadang, perasaan insecure hanya menunjukkan ketakutan, bukan kenyataan. Dan semangat yang melemah bukan berarti sudah hilang, tetapi mungkin hanya tertutup oleh rasa ragu.
Pada akhirnya, insecure adalah bagian dari menjadi manusia. Ia tidak bisa dihilangkan sepenuhnya. Tetapi, bukan berarti ia harus dibiarkan mengambil alih. Karena bagaimanapun, perasaan hanyalah bagian dari diri, bukan pengendali dari seluruh arah hidup seseorang.


















Komentar