oleh

Kediaman Joko Widodo diberi label ‘Tembok Ratapan Solo’ di Google Maps

banner 468x60

Jurnalis TV, Jakarta – Pada Februari 2026, titik koordinat kediaman mantan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo di Jalan Kutai Utara Nomor 1, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Solo, Jawa Tengah, mengalami perubahan label di Google Maps dengan nama ‘Tembok Ratapan Solo’. Perubahan ini muncul setelah viralnya unggahan warganet yang menyoroti aktivitas sejumlah orang di lokasi tersebut, sehingga memicu dugaan bahwa penamaan itu terjadi akibat interaksi massal pengguna platform peta digital.  

Fenomena ini diperkuat setelah sebuah video aksi sekelompok orang mendatangi kediaman mantan Presiden ke-7, yang kemudian mendekat, memegang, bahkan mencium pintu gerbang rumahnya. Menurut Tara Wahyu, jurnalis Detik Jateng, “Mungkin salah satunya berasal dari mas-mas yang mungkin menghadap ke itu sebenernya bukan tembok ya, itu sebuah pintu gerbang, terus tiba-tiba kaya berdoa mungkin, terus menjadi viral, setelah viral ini pada hari senin kemarin detik jatim ini notice bahwa pin di mapsnya itu sudah berganti, ada tanda bahwa “Tembok Ratapan Solo,” ujarnya. Dikutip dari kanal YouTube Detik.com pada Senin (16/02/2025). 

banner 336x280

Baca Juga: Prabowo Tepis Tuduhan Program MBG Boros, Anggaran Disebut Hasil Efisiensi Pemerintah

Pelabelan ini dianggap sebagai representasi pandangan sebagian masyarakat yang menilai rumah tersebut masih menjadi pusat pengaruh politik, meskipun status penghuninya sudah purnatugas.

Lantas apa itu Tembok Ratapan?

Tembok ratapan adalah sebuah tembok yang berada di Kota Yerusalem. Tembok ini merupakan tempat paling suci yang dapat diakses umat Yahudi untuk berdoa. Di sana, orang berdiri berjam-jam, menempel pada batu, memanjatkan doa, menangis, dan menaruh secarik kertas berisi harapan. Hal ini karena tembok tersebut berada paling dekat dengan lokasi Bait Suci yang diyakini sebagai pusat ibadah kuno bangsa Yahudi. 

Alasan disebut “Tembok Ratapan Solo”

Julukan tembok ratapan digunakan masyarakat karena ada kemiripan gestur, tubuh yang merapat ke tembok, ekspresi yang tampak khusyuk, dan simbol “ratapan” yang menampung keinginan paling personal. Kedua hal ini memiliki beberapa persamaan di Tembok Ratapan Yerusalem umat Yahudi berdoa kepada Tuhan dengan tembok sebagai lokasi bersejarah dan suci. Sedangkan pada “Tembok Ratapan Solo” merupakan harapan yang diarahkan pada manusia, yakni tokoh politik yang dianggap mampu memberi keberuntungan. Mengambil Yerusalem bukan dari sisi teologinya, melainkan teatrikalnya.

Kejadian ini menyoroti celah dalam sistem verifikasi Google Maps. Jika dilakukan secara kolektif oleh banyak akun, perubahan nama lokasi bisa tayang secara publik tanpa filter yang ketat. Fenomena ‘Tembok Ratapan Solo’ menunjukkan pergeseran gaya kritik. Apakah generasi saat ini lebih memilih menggunakan instrumen digital dan satire daripada aksi massa konvensional di jalanan?

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *