Jurnalis TV, Tangerang Selatan – Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh massa di berbagai daerah seperti Makassar dan Bandung, kembali diwarnai insiden pembakaran gedung DPR, halte, jembatan, hingga Museum Cagar Budaya Hindia Belanda yang terjadi saat berlangsungnya gelombang protes di sejumlah titik. Tindakan ini terjadi karena adanya pelampiasan kemarahan massa serta dugaan keterlibatan provokator, sehingga menimbulkan kerusakan fasilitas publik, memicu pro dan kontra di masyarakat, serta merusak citra gerakan massa.
Lintar selaku mahasiswa mengungkapkan bahwa aksi pembakaran dalam demonstrasi bisa menjadi bentuk penyampaian suara masyarakat, namun ada kemungkinan pihak tertentu memanfaatkan situasi krisis di Indonesia untuk menunggangi aksi tersebut.
“Kalau pembakaran itu, massa sebagai bentuk demonstrasi sebagaimana suara mereka didengar, tapi kalau untuk apa ada dalangnya pasti ada yang memanfaatkan situasi di Indonesia saat sedang krisisnya. Karena itu, kita harus lebih jeli melihat apakah aksi tersebut benar-benar suara masyarakat atau ada pihak tertentu yang menunggangi.” ungkapnya
Baca Juga: Kejanggalan Demo 25 dan 28 Agustus: Spontanitas Publik atau Gerakan yang Diskenariokan?
Balin selalu mahasiswa juga menegaskan bahwa provokator kerap memunculkan isu lain yang menimbulkan kerusuhan sehingga tujuan utama demo untuk menyuarakan aspirasi ke DPR menjadi tergeser dan merugikan masyarakat.
“Karena kita dari awal ingin menderno untuk satu hal yang kita tuju, yaitu menyuarakan suara kita ke gedung DPR, jadi si provokator membuat isu lain untuk membuat kerusuhan di dalam demo. Hal ini sering kali menggeser tujuan utama aksı dan justru merugikan masyarakat serta demonstran sendiri “ucap Balin.
Paulus menyampaikan bahwa aksi pembakaran merusak fasilitas publik seperti TransJakarta, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat yang menimbulkan kerugian ekonomi, dan mencoreng citra demonstrasi damai.
“Dampaknya fasilitas publik seperti TransJakarta rusak sehingga membuat masyarakat susah melakukan aktivitas. Selain itu, kerusakan ini juga menimbulkan kerugian ekonomi dan memperburuk citra demonstrasi yang seharusnya menjadi sarana penyampaian aspirasi damai.” tutur paulus salah satu Masyarakat yang merasakan dampak demo tersebut.
Salman Alfarisi berpendapat bahwa pemerintah perlu mendengarkan suara masyarakat dan membuka dialog agar ketegangan mereda serta kepercayaan publik meningkat.
“Pemerintah harus lihat ke bawah dan mendengarkan suara masyarakat agar tidak terjadinya demo. Dengan membuka ruang dialog dan menampung aspirasi secara terbuka, ketegangan bisa diredam dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah akan meningkat.” tegas Salman selaku Pekerja di lokasi demo
Pembakaran yang terjadi di tengah aksi demonstrasi, kian memperumit dinamika demokrasi di Indonesia. Bagi sebagian kalangan, tindakan ini dianggap sebagai luapan kemarahan masyarakat yang sulit dibendung. Namun, tak sedikit pula yang menilai, justru ada pihak-pihak tertentu yang sengaja memanfaatkannya untuk memberi citra negatif terhadap gerakan massa Dengan hal ini, publik seharusnya bisa lebih kritis dalam menyikapi setiap peristiwa, sementara pemerintah bersama aparat harus transparan dalam mengungkap siapa dalang di balik kejadian ini.








Komentar