Jurnalis TV, Tangerang Selatan – Sebuah Museum di kawasan Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, menjadi ruang publik bagi masyarakat untuk menikmati seni rupa, mulai dari karya maestro hingga instalasi kontemporer. Berada di pusat kota, galeri ini kerap menjadi pilihan warga untuk melihat seni dari dekat sekaligus melepas penat dari aktivitas harian.
Sebagai galeri seni rupa nasional, Galeri Nasional Indonesia menampilkan koleksi tetap dan pameran temporer yang dapat diakses pengunjung setiap hari. Ruang ini terbuka bagi masyarakat umum yang ingin mengenal perkembangan seni rupa Indonesia lintas generasi.
Salah satu ruang yang menarik perhatian pengunjung berada di Gedung B. Di area ini, karya para maestro seni rupa Indonesia seperti Affandi dan Hendra Gunawan dipamerkan sebagai bagian dari koleksi tetap. Lukisan-lukisan tersebut merekam perjalanan sejarah serta dinamika sosial Indonesia dalam berbagai periode.
Baca Juga: Cemara 6 Galeri: Mengintip ‘Hidden Gem’ Seni yang Tetap Lantang Bersuara.
Selain karya klasik, Galeri ini juga menghadirkan seni kontemporer. Salah satunya instalasi Ruang Reverie karya Mulyana atau Mang Moel. Instalasi berbentuk ekosistem laut buatan dari rajutan benang warna-warni ini memberikan pengalaman visual tersendiri dan kerap menjadi perhatian pengunjung.
Galeri ini juga memiliki ruang yang menelusuri perkembangan seni rupa Indonesia sejak abad ke-19 hingga era kontemporer. Di ruang lain, pengunjung dapat melihat karya Melati Suryodarmo melalui instalasi berbentuk kasur yang mengangkat tema rumah dan rasa aman sebagai refleksi pengalaman personal sang seniman.
Menurut Alam Wisesha, S.Sn., M.Art., Kurator Seni Galeri Nasional Indonesia, menuturkan bahwa gagasan pendirian Galeri Nasional Indonesia telah muncul sejak awal kemerdekaan.
“Berawal dari cita-cita Presiden pertama kita, Soekarno, sejak tahun 1945 sudah ada gagasan untuk memiliki galeri yang menyimpan koleksi nasional. Prosesnya panjang dan baru kemudian Galeri Nasional Indonesia resmi dibentuk pada 1998 dan diresmikan pada 1999,” ujarnya.
Ia menambahkan, meskipun menyandang nama galeri, Galeri Nasional Indonesia juga menjalankan fungsi museum seni rupa, mulai dari pengelolaan, perawatan, penelitian, hingga pameran koleksi.
Selain pameran seni rupa, Galeri ini juga rutin menggelar berbagai program pendukung, salah satunya pemutaran film. Pada Januari ini, program screening movie mengusung tema “Januari Semangat” sebagai ruang refleksi dan motivasi di awal tahun.
Salah seorang pengunjung, Juan Danur, mahasiswa Universitas Gadjah Mada, mengaku ketertarikannya datang ke Galeri Nasional Indonesia berawal dari keinginannya melihat langsung pusat seni rupa Indonesia.
“Sebagai orang yang lumayan tertarik dengan seni, menurutku Galeri Nasional Indonesia adalah tempat paling lengkap untuk melihat kesenian Indonesia. Makanya, begitu sampai di Jakarta, aku langsung datang ke sini,” ujarnya.
Juan juga menyoroti lukisan karya Lucia Hartini berjudul Keterbatasan. Ia menilai karya tersebut menarik karena diciptakan oleh seniman perempuan dengan teknik yang halus. Menurutnya, Galeri Nasional Indonesia penting bagi generasi muda untuk memahami perkembangan seni sekaligus membaca pesan sosial yang disampaikan melalui karya seni.
Galeri ini, berlokasi di Jalan Merdeka Timur No.14, Jakarta Pusat. Museum ini buka setiap hari pukul 10.00 hingga 20.00 WIB, dan dapat diakses menggunakan transportasi umum seperti TransJakarta maupun Commuter Line.













Komentar