Jurnalis TV, Jakarta – Jakarta bukan sekadar deretan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Di balik hiruk-pikuk kawasan Senen, Jakarta Pusat, berdiri sebuah bangunan kolonial yang menjadi saksi bisu lahirnya kesadaran berbangsa di Indonesia. Gedung bersejarah ini dulunya merupakan sekolah kedokteran bergengsi bernama School tot Opleiding van Indische Artsen atau yang disingkat sebagai STOVIA. Gedung ini awalnya dibangun pada tahun 1899 dan mulai digunakan pada tahun 1902 sebagai sekolah kedokteran bagi penduduk pribumi
Pada masa itu, STOVIA menjadi tempat berkumpulnya para pemuda cerdas dari berbagai pelosok nusantara. Interaksi antar-mahasiswa inilah yang mulai memicu diskusi mengenai nasib bangsa yang sedang dijajah. Di salah satu ruangannya, pada 20 Mei 1908, organisasi Boedi Oetomo didirikan. Peristiwa ini dianggap sebagai awal baru bagi perjuangan Indonesia yang tadinya bersifat kedaerahan menjadi pergerakan modern nasional.
Sebelum menjadi museum, gedung ini memiliki sejarah transisi yang panjang. Setelah tidak lagi digunakan oleh STOVIA pada tahun 1920-an karena sekolah tersebut pindah ke Salemba (sekarang menjadi Fakultas Kedokteran UI), gedung ini sempat digunakan sebagai asrama militer Belanda, tempat tahanan perang Jepang, hingga asrama bagi keluarga tentara Indonesia. Karena bangunannya yang luas dan memiliki banyak ruangan, masyarakat sekitar dulu sempat menjuluki kawasan ini dengan sebutan yang beragam sebelum akhirnya resmi direnovasi menjadi museum pada tahun 1974.
Safia, selaku edukator di Museum Kebangkitan Nasional menjelaskan bahwa hal yang paling ikonik dari museum ini adalah bangunan gedung yang masih mempertahankan bentuk aslinya. “Kalo yang paling ikonik itu aku boleh bilang itu gedungnya sendiri. Karena ini salahh satu cagar budaya nasional yang ada di Jakarta, yang artinya kita ga boleh merubah atau bahkan merenovasi sedikitpun. Karena di gedung inilah bumiputra dari berbagai penjuru Indonesia tuh ketemu, bersekolah, dan mereka tuh merasakan keinginan untuk bersatu agar bisa melawan kolonialisme, kurang lebih begitu.” Jelasnya.
Baca Juga: Museum Basoeki Abdullah: Koleksi Karya Seni Peninggalan Sang Maestro Lukis
Meskipun usianya sudah lebih dari seratus tahun, bangunan ini masih berdiri sangat kokoh dan memiliki atmosfer yang seolah-olah menarik pengunjung kembali ke masa kolonial. Museum ini tetap mempertahankan tata ruang sesuai bentuk aslinya, lengkap dengan:
- Lorong-lorong Panjang: Arsitektur khas Belanda dengan sirkulasi udara yang baik.
- Ruang Kelas dan Asrama: Tempat para mahasiswa kedokteran dulu belajar dan bermalam.
- Koleksi Medis Kuno: Berbagai peralatan medis yang digunakan pada masa itu, menjadi saksi bisu keseriusan perjuangan menimba ilmu.
- Fasilitas Modern: Terdapat ruang audiovisual atau bioskop mini yang memutar dokumenter sejarah, serta Ruang Memorial Boedi Oetomo yang menjadi tempat deklarasi organisasi.
Adin, salah satu pengunjung, memilih ruang rapat Budi Oetomo yang paling berkesan di museum ini. “Kalo aku sih yang ruang rapat Budi Oetomo, ada patung emasnya tuh, itu bagus tuh,” ujarnya. Ia merasa senang berkunjung ke museum, karena selain dapat mempelajari sejarah kedokteran di Indonesia, ia juga dapat merasakan atmosfir yang terjadi pada suatu perstiwa. Karena, di setiap ruangannya terdapat patung yang dibuat menyerupai tokoh-tokoh asli saat itu.
Bagi Anda yang ingin berwisata sejarah, Museum Kebangkitan Nasional terletak di lokasi yang sangat strategis, tepatnya di Jalan Abdul Rahman Saleh No. 26, Senen, Jakarta Pusat. Dari Stasiun Gondangdia, perjalanan bisa dilanjutkan dengan ojek online atau Mikrotrans P2 (Terminal Senen-Transport Hub Dukuh Atas) dan turun di bus stop Apartemen Capital Kwitang lalu berjalan sekitar 200m. Waktu tempuh menuju museum sekitar 10 menit.
Museum ini melayani pengunjung setiap hari Selasa sampai Minggu, mulai pukul 08.00 pagi hingga 17.00 sore, namun perlu diingat bahwa museum tutup pada hari Senin serta hari libur nasional. Tarif masuknya sangat terjangkau, di mana pengunjung dewasa hanya dikenakan biaya Rp5.000, anak-anak Rp3.000, sementara untuk wisatawan mancanegara tarifnya adalah Rp25.000.













Komentar