Jurnalis TV, Jakarta – Pasangan Atlet Bulutangkis yang memiliki nama panggilan “The Daddies” resmi memutuskan diri untuk gantung raket (pensiun). Kompetisi Daihatsu Indonesia Master 2025 menjadi pertandingan dan kompetisi terakhir mereka sebagai seorang atlet bulutangkis.
Langkah The Daddies harus terhenti di babak 16 Besar, setelah kalah dari pasangan ganda putra Malaysia (Junaidi Arif dan Roy King Yap) dengan skor 13-21 dan 14-21. Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan sangat menyesal hingga meneteskan air mata atas gagalnya mereka maju ke fase selanjutnya. Mengingat ini adalah kali terakhir mereka dapat bermain, setelah resmi memutuskan untuk berhenti berkarir di dunia bulutangkis pada awal Desember lalu.
“Akhirnya selesai juga perjuangan kami, dari kecil dulu selalu latihan, sekarang sudah tidak latihan lagi,” kata Mohammad Ahsan.
Menelisik sekilas perjalanan panjang pasangan yang kerap dipanggil dengan julukan The Daddies ini. Turnamen Indonesia Master 2025 menandai lebih dari satu dekade lamanya, pasangan ini berkarir bersamaan. Pada awalnya, sebelum mereka resmi dipasangkan. Hendra Setiawan terlebih dahulu berpasangan dengan Alm. Markis Kido, sedangkan Mohammad Ahsan berpasangan dengan Bona Septano. Hingga pada akhirnya, mereka resmi dipasangkan pada Oktober 2012. Pelatih Herry IP lah yang memutuskan untuk memasangkan mereka di turnamen Denmark Open Superseries 2012, dimana mereka mampu melaju hingga semifinal.
Walaupun mereka telah berpasangan hingga tiga belas tahun lamanya, mereka pun sempat dipisahkan ketika Mohammad Ahsan mengalami cedera panjang pada tahun 2016. Seperti kata pepatah “Jodoh tak akan kemana,” mereka pun kembali dipasangkan pada tahun 2018, dan berhasil meraih gelar juara Malaysia International Challenge 2018. Meski usia mereka tidak muda lagi, Ahsan dan Hendra terus memberikan performa luar biasa di berbagai turnamen yang mereka ikuti.
Rentetan prestasi membanggakan telah mereka ukir bagi nama besar Bangsa Indonesia di berbagai turnamen internasional, mulai dari sejumlah prestasi individu maupun beregu. Seperti Juara Dunia Bulutangkis sebanyak tiga kali pada tahun 2013, 2015, 2019, Juara All England sebanyak dua kali, Juara Asian Games 2014 dan 2018, Juara Piala Thomas 2020, Juara Piala Asia 2012 dan 2016, Juara Piala Sudirman 2015, dan Juara BWF Super Series Finals 2013. Namun, ada satu turnamen bergengsi yang belum mereka dapatkan hingga mereka memutuskan pensiun, yaitu Kejuaraan Olimpiade. Meskipun ini menjadi salah satu penyesalan terbesar sepanjang karir mereka, namun Hendra dan Ahsan tetap bersyukur karena mereka juga sudah memiliki berbagai prestasi bergengsi lainnya.
“Penyesalan kami berdua mungkin adalah belum dapat medali olimpiade. Namun kami sudah mencoba dua kali, tetap tidak dikasih, ya bersyukur saja,” ungkap Hendra Setiawan.
Meskipun mereka resmi menyatakan pensiun, tentu akan ada momen-momen berharga yang bakal mereka rindukan nanti semasa pensiun. Mohammad Ahsan mengatakan bahwa dunia bulutangkis penuh dengan kompetisi, namun momen yang paling ia rindukan bukanlah saat-saat mereka bertanding, namun momen-momen kedekatan personal ketika bertemu dengan lawan-lawan mereka. Baginya, kehadiran berbagai teman-teman dari negara lain memiliki rasa kebersamaan yang luar biasa terutama selepas bertanding. Terutama momen ketika mereka berkumpul bersama-sama.
“Tandingnya sih udah enggak rindu. Tapi ngobrolnya dan juga makan barengnya yang akan selalu dirindukan,” ucapnya.
Berbagai momen berharga telah mereka lewati. Warisan mereka pun tak hanya sekedar rentetan trofi dan medali, melainkan juga beragam kisah inspiratif, dedikasi tinggi kepada negara, dan juga kepribadian yang baik, selama di dalam maupun di luar lapangan, yang dapat dicontoh oleh para juniornya.













Komentar