Jurnalis TV, Tangerang Selatan – Sejak awal Maret 2025 hingga saat ini 10 Desember 2025, banjir besar hampir bersamaan melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa bencana ini tidak hanya terfokus di satu wilayah melainkan telah meluas ke banyak daerah. Tak hanya Sumatra, banjir juga menerjang kawasan perkotaan dan wilayah Jawa, seperti Jakarta, Bandung, serta wilayah di Jawa Timur seperti Pasuruan dan Malang.
Fenomena banjir serentak ini memperlihatkan pola krisis ekologis yang semakin mengkhawatirkan. Banjir tidak muncul sebagai kejadian tunggal melainkan akibat rangkaian faktor kompleks: curah hujan ekstrem, kerusakan lingkungan akibat pembalakan liar, serta lemahnya tata kelola sumber daya alam dan tata ruang.
Baca Juga: Banjir dan Longsor di Sumatera Utara Tewaskan Puluhan Korban Jiwa
Di Malang dan Pasuruan, hujan deras yang mengguyur memicu limpahan sungai, sehingga delapan desa di Pasuruan terendam dan sejumlah kawasan di Malang tergenang air hingga 80–160 cm. Sementara di Sumatra, banjir dan longsor besar yang dipicu badai tropis menimbulkan dampak yang sangat parah. Bencana ini tidak hanya menelan ratusan korban jiwa dan menyebabkan puluhan ribu warga mengungsi, tetapi juga merusak infrastruktur, permukiman, lahan pertanian, dan akses transportasi di berbagai wilayah. Situasi ini semakin menyoroti praktik deforestasi dan alih fungsi lahan yang massif. Saat ini, puluhan perusahaan tengah diselidiki atas dugaan pembalakan liar, penyalahgunaan izin hutan, dan aktivitas industri yang diduga memperburuk kerusakan ekologis.
Kondisi ini menegaskan bahwa faktor alam dan aktivitas manusia saling terkait dalam memperburuk bencana. Curah hujan yang tinggi memang menjadi pemicu utama, tetapi kerusakan hutan dan hilangnya daerah resapan membuat air tidak lagi terserap secara optimal. Ketika tutupan lahan berkurang dan ekosistem penyangga terganggu, volume air yang seharusnya tertahan di hulu justru langsung mengalir deras ke kawasan permukiman, sehingga memperbesar risiko banjir dan longsor.
Meluasnya banjir di berbagai daerah, dari kota besar hingga wilayah perdesaan, seharusnya menjadi peringatan penting bagi pemerintah dan masyarakat. Pengelolaan tata ruang, perlindungan hutan, hingga pengawasan terhadap industri yang berkaitan dengan sumber daya alam perlu diperkuat agar kejadian serupa tidak terus berulang. Tanpa pembenahan yang serius, bencana seperti ini dikhawatirkan akan menjadi kejadian yang semakin sering terjadi dan dianggap sebagai hal yang biasa.













Komentar