Jurnalis TV, Jakarta – Dua gelombang demonstrasi besar dalam rentang tiga hari terakhir menimbulkan sejumlah kejanggalan yang memantik tanda tanya publik. Aksi mahasiswa pada 25 Agustus 2025 menolak kenaikan tunjangan DPR, disusul aksi buruh pada 28 Agustus dengan enam tuntutan utama, sama-sama berlangsung di depan Gedung DPR/MPR RI. Namun, alih-alih terpisah sebagai peristiwa spontan, keduanya tampak saling terkait dan memunculkan spekulasi adanya pola yang lebih besar.
Pertama, jarak hanya tiga hari antara dua aksi besar itu dianggap janggal. Biasanya, konsolidasi lintas kelompok memerlukan waktu panjang, tetapi kali ini gelombang protes muncul berturut-turut dengan isu yang saling berkaitan.
Kedua, diamnya Presiden Prabowo Subianto hingga kini semakin mempertebal kejanggalan. Absennya suara resmi dari pemerintah pusat membuka ruang spekulasi: apakah diam itu bentuk strategi politik, atau sekadar kelambanan respons di tengah krisis kepercayaan publik?
Ketiga, eskalasi di lapangan menunjukkan perbedaan yang mencolok. Aksi 25 Agustus oleh mahasiswa diwarnai bentrokan dengan aparat serta tuntutan ekstrem seperti pembubaran DPR. Namun pada 28 Agustus, situasi justru jauh lebih brutal. Kericuhan antara buruh dan aparat membuat Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online berusia 21 tahun, meregang nyawa setelah diduga tertabrak kendaraan Brimob, sementara massa melempar bambu runcing dan membakar fasilitas di sekitar lokasi. Perbedaan eskalasi ini menimbulkan pertanyaan: apakah kekerasan yang terjadi murni reaksi spontan, atau ada pihak tertentu yang sengaja memicu ketegangan?
Baca Juga: Demo 25 Agustus: Tunjangan Jadi Bara di Tengah Krisis Kepercayaan
Keempat, beredarnya video dan kesaksian warga tentang pola kedatangan massa dengan atribut seragam mempertebal dugaan adanya unsur pengorganisasian yang tidak sepenuhnya alami. Publik pun mulai mempertanyakan apakah demonstrasi ini murni ekspresi kekecewaan rakyat, atau ada kepentingan politik yang mengatur jalannya peristiwa.
Kelima, kejanggalan juga terlihat bila dibandingkan dengan aksi-aksi sebelumnya. Pada demo-demo besar di DPR tahun-tahun lalu, jarang sekali ada stasiun TV yang menyiarkan langsung jalannya aksi, tidak tersedia titik medis resmi, dan tidak ada suplai logistik yang datang mendadak. Namun pada aksi 25 dan 28 Agustus 2025, pola itu berubah. Tiba-tiba ada siaran langsung televisi, titik medis, logistik makanan dan minuman, hingga suplai yang datang tanpa jelas sumbernya.
Pengamat sosial Ferry Irwandi menilai fenomena ini tak lazim. “Ada stasiun TV yang live, padahal sebelumnya tidak pernah ada. Tidak ada titik medis, tidak ada suplier logistik, lalu tiba-tiba ada pihak yang datang membawa suplai. Semua ini menunjukkan pola yang aneh,” ujarnya dalam sebuah podcast.
Rangkaian kejanggalan itu membuat tafsir publik terbelah. Sebagian menilai aksi adalah wujud nyata keresahan terhadap DPR dan pemerintah, namun sebagian lain melihat pola yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Dengan jatuhnya korban jiwa, tekanan agar pemerintah angkat bicara kian besar sekaligus memperkuat kesan bahwa gelombang demo ini bukan sekadar gerakan spontan, melainkan bagian dari dinamika politik yang penuh tanda tanya.













Komentar