Jurnalis TV, Jakarta — Fenomena Work from Cafe kini semakin populer di kalangan mahasiswa dan pekerja muda. Tak hanya sekedar tempat nongkrong, kafe kini juga bertransformasi menjadi ‘kantor alternatif’ yang menawarkan kenyamanan dan suasana berbeda. Namun, apa sebenarnya alasan di balik pilihan ini? Apakah sekadar gaya hidup atau memang kenyamanan yang menjadi faktor utama?
Tren bekerja dan belajar di kafe telah menjadi pemandangan umum di berbagai sudut kota. Dengan Wi-Fi gratis, minuman kopi, dan suasana yang lebih santai dibandingkan kantor formal, kafe menawarkan alternatif ruang kerja yang menarik bagi generasi milenial dan Gen Z.
Rizki Maulana, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengaku memilih kafe sebagai tempat mengerjakan tugas karena faktor kenyamanan.
“Kalau dari saya pribadi, lebih ke faktor kenyamanan, sih. Soalnya, kalau kita pilih kafe terutama yang ber-AC dan suasananya cukup tenang itu benar-benar mendukung banget buat ngerjain tugas. Tempatnya nyaman, nggak bising, dan bikin fokus lebih terjaga. Alhasil, produktivitas kita juga jadi lebih meningkat dibanding kalau ngerjain di luar atau di tempat lain yang kurang kondusif,” ungkapnya.
Baca Juga: Fenomena Oversharing di Media Sosial: Batas antara Ekspresi dan Privasi
Senada dengan Muthmainnah Mardiyah, Mahasiswa Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kafe dinilai bisa memberikan suasana yang mendukung kreativitas. Menurutnya, suasana yang berbeda dari rutinitas sehari-hari justru bisa membantu lebih fokus dan membuat kerja jadi lebih produktif.
“Jadi memang, faktor kenyamanan itu jadi alasan utama saya memilih mengerjakan tugas di kafe. Karena menurut saya, suasana yang nyaman itu penting banget supaya kita bisa fokus dan maksimal dalam menyelesaikan tugas,” jelasnya.
Namun, tidak semua pihak sepakat bahwa work from cafe murni tentang kenyamanan. Anisa Kaira, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, berpendapat bahwa tren ini juga mencerminkan gaya hidup generasi muda yang ingin tampil ‘instagramable’.
“Di era media sosial seperti sekarang, banyak anak muda memilih kafe atau tempat nongkrong bukan hanya untuk bersantai atau mengerjakan tugas, tapi juga untuk mencari konten yang bisa dibagikan, misalnya lewat Instastory,” ujar Anisa.
Soal produktivitas, pendapat cukup beragam. Ajo, Script writer Pasar Minggu Jakarta Selatan, mengaku lebih produktif bekerja di kafe karena suasana yang tidak terlalu sunyi namun juga tidak bising.
“Perpustakaan memang menawarkan suasana yang lebih kondusif untuk belajar atau mengerjakan tugas. Namun, berbeda halnya dengan suasana di rumah yang terkadang kurang mendukung, terutama ketika koneksi Wi-Fi bermasalah. Dalam kondisi seperti itu, semangat untuk bekerja pun bisa menurun. Sementara itu, kafe dinilai lebih menarik karena menyediakan berbagai fasilitas seperti makanan, minuman, akses Wi-Fi gratis, serta kesempatan untuk bertemu dan berdiskusi dengan teman. Hal-hal tersebut menjadi nilai tambah yang tidak bisa ditemukan di perpustakaan, di mana interaksi cenderung dibatasi,” ujarnya.
Work from cafe tampaknya merupakan perpaduan antara kebutuhan akan kenyamanan dan ekspresi gaya hidup. Bagi sebagian orang, kafe menawarkan ruang kerja alternatif yang nyaman dan mendukung produktivitas. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa aspek gaya hidup dan citra diri juga berperan dalam popularitas tren ini.
Yang terpenting adalah memastikan bahwa pilihan tempat kerja, apapun itu, tetap mendukung pencapaian tujuan dan tidak mengorbankan kualitas hasil kerja. Work from cafe bisa menjadi solusi yang baik, asalkan dilakukan dengan bijak dan sesuai kebutuhan.
Selengkapnya:













Komentar