oleh

Euforia Penangkapan Nicolas Maduro: Rekam Jejak Kepemimpinan Presiden Venezuela

banner 468x60

Jurnalis TV, Jakarta Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap oleh unit elite Delta Force Amerika Serikat (AS) di kediaman Caracas pada Sabtu (3/1/2026) dini hari pukul 02:01 waktu setempat, setelah serangan udara melumpuhkan sistem pertahanan dan memadamkan listrik di sebagian ibu kota. Penangkapan ini memicu reaksi kontras: sebagian masyarakat Venezuela, terutama diaspora di luar negeri, meluapkan kegembiraan dengan turun ke jalan untuk merayakan momen bersejarah ini. AS menilai Maduro terlibat dalam jaringan kartel narkoba Cartel de los Soles dan organisasi terorisme.

Maduro beserta istrinya Cilia Flores ditangkap di Caracas oleh unit elite Delta Force AS. Kemudian diterbangkan ke pangkalan militer AS sebelum akhirnya dikawal ketat agen Federal Bureau of Investigation (FBI) untuk menghadapi proses hukum di pengadilan New York, atas tuduhan narko-terorisme. AS menetapkan Maduro sebagai buronan sejak 2020 dan menawarkan hadiah penangkapan hingga 50 juta dolar AS  kepada siapapun yang dapat memberikan informasi, terkait dugaan kerja sama dengan kartel narkoba internasional.

banner 336x280

Istri Nicolás Maduro, Cilia Flores, juga ditangkap karena didakwa Amerika Serikat terlibat jaringan perdagangan narkotika internasional bersama suaminya. Ia dituduh membantu konspirasi impor kokain dan menerima suap, sehingga ikut dimasukkan dalam dakwaan federal. Namun, Maduro dan Flores membantah tuduhan tersebut dan menilai penangkapan itu sebagai pelanggaran kedaulatan Venezuela.

Baca Juga: Kemenangan Zohran Mamdani, Wali Kota Muslim Pertama di New York

Sebagian masyarakat  Venezuela terutama diaspora di luar negeri justru merayakan penangkapan Nicolás Maduro karena mereka melihat sebagai simbol berakhirnya rezim yang otoriter dan penyebab krisis ekonomi serta penindasan selama bertahun-tahun, sehingga banyak warga Venezuela yang tinggal di luar negeri khususnya di Amerika Latin, Amerika Serikat, dan Eropa, ribuan warga Venezuela turun ke jalan untuk merayakan momen bersejarah ini. Mereka mengibarkan bendera nasional Venezuela berwarna kuning, biru, dan merah sambil meneriakkan yel-yel “si, se puede” (yes we can) yang menggema di sepanjang jalan. Sementara reaksi di dalam Venezuela sendiri lebih beragam dan tidak semua warga merayakan.

Setelah melancarkan serangan besar-besaran yang mengejutkan terhadap negara tersebut pada malam hari. Presiden AS Donald Trump mengatakan akan mengambil alih sementara pemerintahan Venezuela

“Kami akan menjalankan negara itu sampai tiba waktunya dilakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana,” ujarnya dalam sebuah konferensi pers di resor Mar-a-Lago miliknya, dikutip dari Reuters, sabtu (3/1/2026).

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan untuk sementara Venezuela akan menyerahkan sekitar 30 hingga 50 juta barel minyak mentah yang sebelumnya dikenai sanksi kepada Amerika Serikat. Presiden AS itu menjelaskan bahwa minyak tersebut akan dilepas ke pasar dengan harga yang berlaku dan hasil penjualannya akan berada di bawah kendali Trump dan digunakan untuk kepentingan kedua negara, dengan perkiraan harga minyak sekitar USD 56 atau setara Rp938.000 per barel.

“Minyak ini akan dijual dengan harga pasar, dan uangnya akan dikendalikan oleh saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan penggunaannya demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat,” tulis Trump melalui unggahan di media sosial.

Sejak berkuasa pada 2013, pemerintahan Maduro ditandai krisis ekonomi berkepanjangan mulai dari hiperinflasi, kontraksi pertumbuhan ekonomi, serta tingkat pengangguran yang meningkat memicu pelarian sekitar delapan juta warga Venezuela ke luar negeri. Meski euforia menyelimuti sebagian warga Venezuela atas penangkapan Nicolas Maduro, tidak sedikit warga Venezuela yang menyimpan kekhawatiran terhadap langkah AS. Trump menyebutkan akan mengambil alih arah politik Venezuela.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *