Jurnalis TV, Jakarta – Konflik antara Israel dan Palestina kembali menjadi sorotan dunia sejak awal Oktober 2023. Saat itu, kelompok milisi Hamas meluncurkan serangan besar-besaran yang mereka sebut sebagai operasi “Thufan Al Aqsa” atau “Badai Al Aqsa”. Serangan ini disebut Hamas sebagai balasan atas pendudukan panjang Israel di wilayah Gaza serta berbagai tindakan kekerasan yang terjadi di kompleks Masjid Al Aqsa, yang selama ini menjadi simbol penting bagi umat Islam di Palestina dan dunia.
Dalam hitungan jam setelah serangan Hamas tersebut, Israel merespons dengan kekuatan penuh. Invasi darat, udara, dan laut dilancarkan ke Jalur Gaza. Targetnya bukan hanya milisi, tetapi juga infrastruktur sipil yang disebut Israel sebagai lokasi-lokasi strategis Hamas. Hingga kini, lebih dari delapan bulan sejak dimulainya Thufan Al Aqsa, agresi militer Israel ke Gaza masih terus berlanjut dan belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Konflik ini sendiri sebenarnya bukanlah babak baru dalam sejarah panjang pertikaian Israel-Palestina. Sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948, wilayah Palestina telah menjadi pusat ketegangan yang tak kunjung usai. Keputusan kontroversial Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat itu, yang membagi tanah Palestina menjadi dua wilayah untuk Yahudi dan Arab Palestina, memicu perang besar pertama antara Israel dan negara-negara Arab.
Menurut sejarawan dari Middle East Institute, akar konflik ini bahkan bisa ditelusuri jauh ke belakang, hingga masa Kekaisaran Romawi. Pada abad ke-2 Masehi, penguasa Romawi saat itu mengganti nama wilayah “Judea” menjadi “Palestine” dalam upaya menghapus identitas Yahudi. Nama “Palestina” kemudian terus digunakan, termasuk di masa pemerintahan Kekhalifahan Islam hingga era kolonialisme Inggris.
Dari sisi Israel, klaim atas wilayah tersebut mengacu pada sejarah panjang dan keyakinan dalam kitab suci Yahudi yang menyebut tanah itu sebagai Tanah Perjanjian, tempat leluhur mereka. Namun disisi lain, rakyat Palestina yang sudah tinggal di sana selama berabad-abad juga memiliki hak historis, budaya, dan politik atas wilayah tersebut.
Baca Juga: Menolak Lupa Peristiwa Nakba: Malapetaka Bagi Palestina (77 Tahun Silam)
Menurut Dr. James Gelvin, profesor sejarah Timur Tengah dari University of California, Los Angeles (UCLA), meski gerakan nasionalisme Palestina muncul lebih belakangan dibanding Zionisme Yahudi, hal itu sama sekali tidak mengurangi legitimasi warga Palestina atas hak tanah air dan identitas nasional mereka. Gelvin juga menyoroti bahwa masalah pengungsi Palestina, batas wilayah yang tidak jelas, dan status Yerusalem adalah tiga dari sekian banyak hambatan utama dalam upaya mencapai perdamaian.
Sejak operasi Thufan Al Aqsa diluncurkan, situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk. Data dari BBC, Al Jazeera, dan Middle East Eye melaporkan bahwa ribuan warga sipil Palestina menjadi korban, baik yang meninggal dunia maupun yang luka-luka. Rumah sakit, sekolah, hingga tempat ibadah menjadi sasaran serangan. Di pihak Israel, roket dari Hamas dan kelompok perlawanan lain juga menyebabkan korban di kalangan sipil.
Laporan dari organisasi HAM seperti Human Rights Watch dan Amnesty International terus memperingatkan risiko krisis kemanusiaan besar-besaran. Mereka menyoroti dugaan kuat terjadinya pelanggaran hukum humaniter internasional oleh kedua belah pihak. Namun, mayoritas perhatian dunia internasional kini tertuju pada penderitaan warga sipil Gaza yang hidup dalam kondisi yang semakin memprihatinkan.
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) melaporkan bahwa lebih dari 1 juta warga Gaza saat ini hidup tanpa akses memadai ke air bersih, makanan, dan layanan kesehatan. Infrastruktur penting seperti listrik dan sanitasi juga lumpuh di banyak wilayah.
Sementara itu, berbagai upaya diplomasi dan mediasi untuk mendorong gencatan senjata, yang dimotori oleh negara-negara seperti Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat, hingga kini belum membuahkan hasil konkret. Negosiasi damai sering kali berujung buntu di tengah perdebatan tentang blokade Gaza, pembebasan tawanan, hingga status wilayah pendudukan di Tepi Barat dan Yerusalem.
Sejumlah analis politik Timur Tengah memperkirakan bahwa konflik ini berpotensi terus berlarut, bahkan bisa menjadi eskalasi baru yang lebih luas, jika tidak ada langkah diplomatik serius untuk menghentikan agresi dan membuka ruang dialog.
Kini, delapan bulan lebih sejak dimulainya operasi Thufan Al Aqsa, pertanyaan besar pun menggantung di benak banyak pihak: “Sampai kapan penderitaan di Gaza akan terus berlanjut tanpa ada jalan keluar?”













Komentar